Monday, May 2, 2011

Sastra Bukan Melulu Tergantung Pada Kata

Judul tulisan di atas dengan sengaja menampik kepastian pilihan judul antologi terbitan 10 buah esai tentang puisi karya Dr. A. Teeuw (Leiden) bernama 'Tergantung pada Kata'(1980). Judul buku itu sangat tendensius, sebab menggiring inti pemaknaan puisi secara terang-terangan definitif dan denotatif ke dalam dogma Kata' versi teori Kritik Bang (New Criticism) ataupun Strukturalisme & Post-strukturalisme. Mendogmakan pertobatan penyair ke asas ketergantungan pada "Kata" kamusan.

Tetapi manakah arti "Kata" yang ditergantungkan itukata-kata absah leksikografis? Setiap dunia penciptaan puisi tahu, bahwa pencarian (dan penemuan) "Kata" dalam menciptakan puisi adalah konotatif; "diksi puisi" (poetic diction) dan bukan otomat mengembalikan arti kata kepada denotasi sebuah kamus umum. Langkah rancau segera terjadi tatkala pendekatan niasalah teoretik peniikiran sastra umum pun diabsahkan bekerja secara deduktif sebagai pembenaran, dan oleh Teeuw dijurus begitu saja memasuki wilayah ciptaan sastra otonom pengarang sebagai temuan genial yang hukum ciptanya ditemukan pengarang di dalam karya itu. "Kata" dalam temuan pengucapan "diksi puisi" (poetic diction) Sutardji Calzoum Bachri tentulah tidak selalu harus sama denotasi "Kata" kamus. Pun tidak harus sama dengan diksi puisi temuan Chairil Anwar. Temuan genial estetik pengarang/ penyair harus diterima sebagai "otonomi", dan bukan sebagai "objek" untuk pembenaran paradigma teori. Tiap teori sastra justru harus mengacu dan berbasis pada temuan konotatif menurut wawasan estetik pengarang. Terlebih dalam hal posisi "kata" dalam ciptaan puisi.


Judul Buku
Apakah sastra?: kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. H.B. Jassin
PengarangDami N. Toda, H. B. Jassin
Penerbit
Agromedia Pustaka, 2005 - 384 halaman

No comments:

Post a Comment